SASTRA KLASIK INDATU (GRAND FATHER) ORANG ACEH

SASTRA KLASIK INDATU (GRAND FATHER)
ORANG ACEH

Oleh Hamdani, S.Pd.

Aceh merupakan daerah pusat kebudayaan Islam dan dari daerah Aceh pula Islam tersebar sampai ke pulau Jawa yang dibawa oleh Maulana Malik Ibrahim. Maka tak pelak, jika bumi indatu Iskandar Muda ini banyak mewariskan beragam corak sastra Islami. Dari bumi serambi Mekkah juga asal muasal pembaharuan sastra Melayu Indonesia. Yang berpengaruh dan membawa perubahan terhadap sastra Melayu Indonesia. Daerah Aceh memiliki aset kekayaan genre (jenis ) sastra klasik. Kenapa disebut klasik? Jawabannya tak lain karena sastra lama tetapi menarik. Dalam tulisan ini saya hanya membahas jenis puisi dan prosa. Mengingat genre ini lebih tenar dan menarik kiranya patut untuk dibicarakan.

Ciri-ciri umum karya sastra klasik adalah sama dengan ciri sastra lama yaitu: a) bersifat anonim (tidak memiliki nama pengarang), b) bercorak ragam lisan diceritakan dan dibicarakan dari mulut ke mulut, c) bersifat turun temurun antar generasi ke generasi, d) jika berupa puisi unsur ritma dan sajak lebih dominan.

Dalam ikon puisi lama menurut Razali Cut Lani dalam karyanya berjudul "Kesusastraan Aceh" dikenal beberapa jenis sastra klasik antara lain: narit maja (peribahasa), hiem (teka-teki), dan panton (pantun). Semua genre sastra tersebut merupakan jenis sastra tertua dalam sejarah perkembangan sastra Aceh. Untuk lebih jelas ihwal sastra lama genre puisi ini akan saya bahas secara runtut berikut ini:

1.Narit Maja (Peribahasa)
Dalam tradisi masyarakat Aceh narit maja berfungsi sebagai media pengendalian sosial (control sosial) dan sebagai sarana penyampaian pesan moral. Dalam narit maja juga mengandung nilai-nilai pendidikan Islam. Seperti terdapat dalam narit maja berikut: hana patot aneuk murid lawan gure/ nyo kon seude teunte gila. Terjemahan bebasnya adalah tidak patut seorang murid melawan gurunya, kalau tidak senu tentu gila. Demikianlah peribahasa Aceh sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Agar lebih jelas mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam narit maja, baca: Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Narit Maja, oleh: Iskandar (Skripsi mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe) dan Struktur dan Fungsi Narit Maja dalam Masyarakat Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara, oleh: Hilmi Wilminar (Skripsi Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Syiah Kuala) dalam kedua karya ilmiah tersebut membahas dan mengupas secara tuntas tentang narit maja. Razali Cut Lani dalam "Kesusastraan Aceh" juga telah membahas berbagai hal yang terlibat dalam peribahasa Aceh. Seperti unsur flora dan fauna dalam narit maja, ekonomi, perdagangan, sosial, adat istiadat, moral, keagamaan, kriminalitas, dan hal-hal lainnya secara runtun.

Kita ambil salah satunya sebagai contoh perdagangan dalam narit maja. Misalnya terdapat dalam narit maja berikut: tulak tong tinggai tem. Arti bebasnya: dorong tong, tinggal kaleng. Dalam peribahasa ini mengandung pengertian bahwa dalam usaha dagang (jual beli) setelah diperkirakan laba rugi dalam hal ini tidak ada yang diuntungkan, tetapi hanya mencukupi modal saja.
Bidang kriminalitas yang membawa dampak bagi hajat hidup orang banyak. Masyarakat Aceh sering menyebut narit maja: gop pajoh boh panah/ tanyo yang meugeutah.
Terjemahan bebasnya: orang lain yang makan nangka, kita yang bergetah. Orang lain yang berbuat salah kita yang mendapatkan efek dari kriminalitas tersebut. Dalam tulisan ringkas ini saya tidak merincikan satu persatu narit maja tersebut, karena itu tugas pribadi anda dirumah (PR).

2. Hiem (Teka-Teki)
Masyarakat Aceh dalam keseharian sering kumpul bersama sanak keluarga dan kerabat untuk berteka-teki sejenak. Teka-teki dalam masyarakat Aceh selain sebagai hiburan juga menjadi arena asah otak, karena dalam teka-teki juga mengandung unsur pendidikan. Walaupun unsur humor lebih dominan.

3. Panton (Pantun)
Bagian terakhir dari puisi klasik Aceh adalah pantun. Puisi empat baris yang terdiri atas sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua disebut sampiran. Baris ke tiga dan empat namanya isi. Panton Aceh dan pantun Indonesia memiliki ciri-ciri sama. Bersajak ab, ab. Sama halnya dengan narit maja dan hiem yang sebenarnya juga terdapat dalam konteks sastra Indonesia. Cuma dalam tulisan ini saya hanya membicarakan dalam corak sastra Aceh. Contoh pantun: limong-limong kapai jitamong/ dua go limong kapai jibungka/ nyo hantrok lon cot ngon reunong/ nyan bungong lon pupo geulawa. Arti bebas pantun tersebut adalah: lima-lima kapal masuk, dua kali lima kapal berangkat, kalau tak bisa saya ambil pakai galah, bunga itu akan saya lempar supaya jatuh untuk saya ambil menjadi milik saya. Pantun perjuangan untuk meraih dan menaklukkan hati seorang idaman. Klasik bukan ?
Dari segi umur pemakai terdapat bermacam jenis pantun seperti pantun anak-anak, pantun remaja, dan pantun dewasa. Berdasarkan manfaat dan kondisi pemakaian dikenal pantun nasihat, pantun jenaka, dan pantun kaula muda.

4. Dalam genre puisi lama ini saya menambahkan satu lagi jenis dari puisi lama yaitu ca-e atau syair. Ca-e atau syair adalah jenis puisi liris.

Sementara itu dalam ikon genre prosa lama di Aceh dikenal dengan prosa liris (hikayat), legenda, fabel, haba jameun (cerita rakyat/kabar zaman).

1. Hikayat adalah jenis prosa lama. Jika dilihat dari unsur intrinsiknya hikayat lebih cocok disebut prosa. Mengingat dalam hikayat lebih dominan ditunjang oleh setting (latar), tokoh, watak (karakter), konfliks dll. Umumnya hikayat bersifat istanasentris (berpusat di istana) dan cerita raja-raja. Namun ciri utama hikayat adalah anonim (tidak memiliki nama pengarang) seperti umumnya sastra lama lainnya. Ada juga beberapa hikayat yang memiliki nama pengarang seperti hikayat Prang Sabi karya Teuku Chiek Pante Kulu. Namun dalam tulisan ini saya merujuk kepada ciri umum hikayat. Di Aceh sarat akan hikayat warisan indatu antara lain misalnya hikayat Raja-Raja Pasai.

2. Legenda adalah jenis cerita turun temurun bercerita tentang asal usul suatu geografis (asal nama daerah, asal mula sebuah pulau dan sebagainya). Contoh: Legenda Amad Rhang Manyang yang menjadi pulau batu di Aceh Besar dan legenda si anak durhaka Malin Kundang di Padang, Sumatera Barat.

3. Fabel adalah cerita yang ditokohkan oleh binatang. Jikapun melibatkan tokoh manusia, namun tokoh binatang dalam cerita fabel lebih dominan. Dalam fabel binatang menjadi aktor utama walaupun tanpa disutradarai oleh manusia cerita tetap berjalan sukses. Karena memang demikianlah sebuah fabel dikisahkan. Contoh fabel yang terkenal adalah Kancil dan Harimau, Kancil dan Siput, dll.

4. Haba Jameun (cerita rakyat) adalah kabar zaman yang diriwatkan dari mulut kemulut. Secara turun temurun. Jika ada cerita rakyat yang terkumpul dalam sebuah buku itu bukanlah milik penghimpun. Melainkan milik semua masyarakat dimana cerita rakyat tersebut berkembang. Sebagai penghargaan kepada penghimpun cerita ini disebut sebagai penyusun atau editor buku tersebut. Seperti kumpulan Kabar Zaman Dari Aceh karya LK. Ara. Cerita rakyat yang terkumpul dalam buku tersebut adalah milik masyarakat Aceh. Tetapi LK. Ara adalah orang yang sangat berjasa dengan menerjemahkan cerita rakyat Aceh ke dalam Bahasa Indonesia. Haba jameun biasanya selalu diawali dengan pembukaan seperti berikut ini: bak jameun dile, na sibak bak jambe di leun. Trep nibak trep broek rumoh tinggai sudep… na saboh kisah, yang artinya: pada zaman dahulu ada sebatang pohon jambu di depan rumah. Lama kelamaan rusak rumah tinggal panggang… ada sebuah kisah. Contoh haba jameun : Abu Nawas dan Aneuk Yatim.

Tentang Penulis :
Hamdani, S.Pd. adalah dosen STAIN Malikussaleh dan guru MAN Lhokseumawe.

0 Response to "SASTRA KLASIK INDATU (GRAND FATHER) ORANG ACEH"

Post a Comment