Sabtu, 29 Oktober 2011

JEJAK ISLAM SAMUDERA PASAI

JEJAK ISLAM SAMUDERA PASAI

Oleh Hamdani, S.Pd.


1. Meurah Mulia dan Hubungan Kekerabatan dengan Samudera Pasai
Meurah Mulia sebenarnya layak ditulis menjadi sebuah kisah sejarah yang terabaikan dari catatan para penulis. Meurah Mulia kini menjadi sebuah kecamatan yang terletak di kawasan agak pedalaman, ke arah selatan Aceh Utara. Jika melihat kilas balik sejarah, sebenarnya Meurah Mulia merupakan bagian dari anak kerajaan Samudera Pasai (wilayah sagoe) yang sering luput dari perhatian peneliti sejarah. Padahal di bekas anak kerajaan ini banyak menyimpan sejarah yang mengharukan. Seperti namanya yang unik ; meurah dalam bahasa Aceh berarti: gajah (pomeurah), dan mulia berarti: ramah, baik, dan luhur. Konon di kawasan Jungka Gajah yang menjadi ibukota kecamatan ini dulukala ditemukan seekor gajah mati. Lalu legenda itu menjadi cikal bakal nama ibukota kecamatan sampai sekarang, yang pada dasarnya; jungka (bahasa Aceh) berarti: kepala atau muka, dan gajah berarti: meurah. Dengan demikian Jungka Gajah mengandung pengertian : kepala atau muka gajah. Maka serasilah antara nama Meurah Mulia dengan ibukotanya Jungka Gajah. (Sumber: Cerita turun-temurun yang berkembang dalam masyarakat Aceh).

Dalam masyarakat Aceh, gajah (meurah) merupakan simbol keperkasaan. Dalam dunia kemiliteran Aceh, gajah menjadi lambang patriotisme dan ketangkasan. Maka tak pelak, jika masa kesultanan Aceh dan Samudera Pasai juga dibentuk barisan pasukan tentara bergajah. Dari logika semacam ini dapat diprediksikan bahwa Meurah Mulia sangat intim dan merupakan bagian yang sangat terkenal dalam mempertahankan dan memajukan kerajaan Samudera Pasai. Dengan demikian kata meurah: gajah, sangat populer dikalangan istana raja Pasai.

Bukti lain bahwa Meurah Mulia adalah bagian dari kekerabatan samudera Pasai jika dilihat dari segi geografis, adat istiadat, dan kebudayaan. Antara Meurah Mulia dengan Samudera merupakan suatu kesatuan wilayah utuh yang sama sekali tidak dapat dipisahkan. Selain itu, di Meurah Mulia di Gampong Paya Bili juga terdapat kuburan keturunan bangsawan yang layak disebut pahlawan Aceh, bernama Pang Husen. Meurah Mulia juga menjadi pusatnya perguruan tinggi agama Islam, karena dikawasan Gampong Paya Kambuek merupakan pusatnya persatuan majelis ulama. Salah seorang keturunan ulama termasyhur dari Meurah Mulia adalah almarhum Tgk. Abdul Jalil bin Hamzah atau Tgk. Samakurok (Tgk. Kurok), seorang ulama kharismatik yang memiliki karamah.

Bila sejarawan mengkaji histori sejarah Pasai dengan metode kekinian. Pada perbatasan antara kecamatan Samudera Geudong dengan Meurah Mulia disitu terdapat sebuah areal kuburan tepatnya di desa Bluek dan disitulah Putroe Beutong anak angkat Sultan Malikussaleh dikebumikan (Seperti yang tertulis dalam buku Kronik Hikayat Raja-Raja Pasai). Manuskrip asli Kronik Hikayat Raja-Raja Pasai tersebut hanya ada di meusium sejarah di Belanda satu-satunya saat ini. Pada perbatasan Samudera-Meurah Mulia juga terdapat sebuah desa bernama Blang Peuria. Sejarawan memprediksikan, jika Blang Peuria itu merupakan warisan kepunyaan Mahdum Peuria, cucu Sultan Malikussaleh. Blang (bahasa Aceh): sawah, dan peuria berasal dari nama Mahdum Peuria. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Blang Peuria berarti sawah milik Mahdum Peuria.

2. Kerajaan Islam Pertama di Indonesia Samudera Pasai
Kerajaan Islam pertama dan tertua di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai atau Samudera Pasee.Masuknya Islam pertama ke Indonesia adalah ditandai dengan berdirinya sebuah kerajaan Islam yang termasyhur namanya sampai saat ini dan terukir dalam buku sejarah peradaban dunia yaitu kerajaan Samudera Pasai.

Bukti ini penulis dapatkan dari hasil petualangan si penjelajah “penemu benua Amerika”, Marcopollo mencatat bahwa ada sebuah kerajaan yang sangat megah dan disegani dikawasan Asia Tenggara waktu itu bernama Samudera Pasai, seperti yang tertulis dalam buku "Aceh Sepanjang Abad" karya Mohammad Said.

Dalam buku "Aceh Sepanjang Abad" (1979:61) Mohammad Said lebih jelas memaparkan bahwa dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada 17-20 Maret 1963, telah diambil kesimpulan antara lain (a) bahwa Islam masuk untuk pertama kalinya ke Indonesia pada abad 1 Hijriah dan langsung dari Arab, dan (b) bahwa daerah pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan setelah terbentuknya masyarakat Islam maka raja (Muslim) yang pertama berada di Aceh.

Pada 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh telah berlangsung pula suatu seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Provinsi/Daerah Tingkat I Aceh. Dalam bab kedua kesimpulan dari seminar tersebut yang terpenting diantaranya adalah: Pada abad 1 Hijriah, Islam sudah masuk ke Aceh dan Kerajaan Islam Pertama di Aceh adalah Peureula` (Peureulak), Lamuri, dan Pasai (Mohammad Said, 1979:63) yang disambut oleh Sultan Malikussaleh.

Para sejarawan memprediksikan menurut ilmu bahasa bahwa kata samudera itu berasal dari nama lautan atau selat. Jika kita tinjau dari segi bahasa Melayu lama maupun bahasa Indonesia, samudera itu berarti lautan. Sedangkan Pasai (pasee) berasal dari kata pasie yang berarti: pinggir laut, pantai atau pesisir. Sudah jelas fakta membuktikan bahwa memang benar kerajaan Samudera Pasai berada di kawasan utara Sumatera atau tepatnya di semenanjung selat Malaka. Pasai (Bahasa Aceh) juga dapat diartikan sebagai Pasar, karena banyaknya para pedagang dan saudagar yang singgah di kerajaan Samudera Pasai untuk berniaga kala itu.

Para sejarawan hebat dalam buku-buku menuliskan bahwa masuknya Islam pertama ke Indonesia adalah ke Aceh yaitu di kerajaan Samudera Pasai yang dibawa oleh Syeh Ismail seorang ulama dari Arab. Kemudian Islam tersebar sampai ke pulau Jawa yang dibawa dan diteruskan oleh ulama dari Aceh bernama Maulana Malik Ibrahim. Lalu Islam pun berkembang dengan pesat di pulau Jawa yang ditandai dengan lahirnya para walisongo (wali sembilan). Nab Bahany AS dalam tulisannya “Fatahillah, Putra Aceh Pendiri Kota Jakarta” (Serambi Indonesia: 27 Juni 2010) memaparkan bahwa Fatahillah Pendiri kota Jakarta juga adalah seorang putra Aceh. Ulama dari kerajaan Samudera Pasai yang menyebarkan Islam ke Pulau Jawa. Fatahillah salah seorang pahlawan yang telah berjasa berjuang bersama rakyat untuk merebut kembali Sunda Kelapa dari tangan Portugis.

Para ulama dari Aceh juga yang menyebarkan Islam ke Padang (Minangkabau), Sumatera Barat, dan kebanyakan ulama Padang merupakan alumni pesantren (dayah) Aceh. Setelah sekian lama para ulama Padang menuntut ilmu di Aceh, mereka kembali ke Padang untuk menyebarkan syiar Islam. Untuk selanjutnya para ulama dari Padang ini mengajak beberapa ulama Aceh untuk menyebarkan Islam sampai ke Gorontalo, Sulewesi.(Berita Sejarah Jejak Ulama di RCTI tahun 2007).

Jika anda sekarang ingin melihat jejak kerajaan dan makam raja-raja Samudera Pasai. Anda dapat menempuh perjalanan kira-kira berjarak 3 km ke arah utara kota Samudera Geudong, sebuah kota kecil di Aceh Utara. Pada bulan Maret 2009 peneliti sejarah kerajaan Samudera Pasai Tgk. Taqiyuddin telah menemukan reruntuhan (fondasi) pusat istana kerajaan Samudera Pasai di kawasan desa Beuringen yang sudah ratusan tahun tertimbun tanah. Tgk. Taqiyuddin sebelumnya juga menemukan satu stempel (cap) yang diperkirakan merupakan peninggalan kerajaan Samudera Pasai. Pada bulan April 2009 Tgk. Taqiyuddin juga telah melakukan survei di kawasan desa Mesjid Bluek, Kec. Meurah Mulia (bekas wilayah sagoe Samudera Pasai), dan hasilnya membuktikan bahwa makam Sultan Johor berada di Aceh. Berita tersebut disiarkan oleh harian ternama terbitan Aceh Serambi Indonesia, dan penemuan saksi sejarah tersebut telah menolak pendapat Marcopollo dalam buku Aceh Sepanjang Abad karya Mohammad Said, yang memaparkan bahwa Sultan Johor tewas ditangan Belanda dalam peperangan bersama masyarakat Aceh dan tidak diketahui dimana kuburannnya.

Dengan demikian berarti antara wilayah sagoe Meurah Mulia dengan Samudera Pasai memiliki hubungan yang sangat erat. Meurah Mulia merupakan suatu kesatuan integrasi dari kerajaan Samudera Pasai yang menjadi ujung tombak pertahanan wilayah kekuasaan raja Pasai dengan Pasukan berkenderaan gajah: meurah mulia. Selain Meurah Mulia beberapa wilayah lain yang sangat berperan dalam memajukan kerajaan Pasai. Antara lain Blang Jruen dan Matang Kuli (desa Pirak), di desa tersebut tercatat nama seorang pahlawan nasional Cut Nyak Meutia yang merupakan keturunan darah biru, yang diperkirakan masih satu keturunan dengan sultan Samudera Pasai.

3. Asal Mula Nama Sultan Malikussaleh
Nama asli dari Sultan Malikussaleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai adalah Meurah Silue. Sedangkan Malikussaleh merupakan nama lakap atau nama kehormatan, pangkat atau nama gelar dalam jabatan kerajaan. Malikussaleh berasal dari kata bahasa Arab, yaitu; Malik: raja, saleh: salih, taat, atau baik budi. Jadi, Sultan Malikussaleh berarti raja yang taat dan salih serta sangat mencintai rakyat dan disenangi oleh rakyatnya. Memang demikian alkisah sejarah membuktikan bahwa Sultan Malikussaleh seorang raja yang adil. Di bawah kekuasaannya Samudera Pasai bahkan menguasai sampai ke semenanjung Malaka. Pahang (Malaysia) pernah ditaklukan dan berada dibawah kekuasaan Samudera Pasai. Antara Pahang dan Pasai pernah menjadi sebuah kerajaan yang padu dalam bidang kerjasama bilateral kedua negara. Dari itulah sejarawan memprediksikan bahwa kenyataannya Sultan Johor meninggal dan kuburannya berada di Meurah Mulia, Aceh Utara.

Ketika Pasai berjaya kerjasama yang dijalin dengan negara-negara luar bukan hanya dengan kerajaan jiran saja, tetapi juga dengan negara Turki dan timur tengah. Buktinya, kerja sama bidang kemiliteran Samudera Pasai pernah dipimpin oleh seorang panglima perang yang berasal dari Gujarat. Selain itu, untuk bidang hukum, Pasai banyak mengangkat pakar hukum (qadhi) yang berasal dari Arab.

4. Aceh Dijuluki Serambi Mekkah
Banyak orang bertanya kenapa Aceh disebut Serambi Mekkah ? Kenapa bukan Iran atau Afganistan yang diberi julukan sebagai Serambi Mekkah.

Aceh disebut Serambi Mekkah, karena di Aceh Islam berkembang sangat cepat dan pesat. Jika Mekkah menjadi ruang utama tempatnya syariat Islam ditegakkan, maka Aceh menjadi ruang serambi (seuramoe) bagi perkembangan Islam. Sedangkan indatu (grand father) orang Aceh mengatakan Aceh dijuluki Serambi Mekkah, karena kuatnya Islam di Aceh sama seperti Islam di Arab. Hal itu terbukti dengan terkenalnya para ulama dari Aceh tempo dulu. Banyak ulama Aceh yang berguru dan menuntut ilmu agama Islam ke Mekkah, seperti ulama sekaliber Tgk. Awee Geutah dan Tgk. Abuya Muda Wali dari Labuhan Haji.

Bahkan pada masa kerajaan Aceh Darussalam banyak ulama dari Arab yang bolak-balik dari Arab ke Aceh, dan sebaliknya. Setelah menimba ilmu agama di Arab menuju Aceh untuk menyebarkan Islam. Beberapa nama ulama terkemuka hebat antara lain Syaikh Abdul Rauf (Syiah Kuala) dan Syaikh Nuruddin Ar-Raniry yang merupakan keturunan ulama yang berasal dari Arab. Aceh juga terkenal dengan ulama dan sastrawan besar seperti Teungku Syiek Pantee Kulu. Dalam konteks ke-Indonesia-an, Aceh merupakan daerah yang bercorak kebudayaan Islam dalam segala aspek kehidupan kemasyarakatan. Aceh juga menjadi gudang para ulama.

Cut Nyak Dhien pahlawan nasional dari Aceh ketika dibuang dan diasingkan oleh Belanda ke Sumedang, Jawa Barat, pernah menjadi guru agama di balai pengajian di sebuah desa kecil di sumedang kala itu. Wanita-wanita Sumedang waktu itu belajar ilmu agama kepada cut Nyak Dhien, yang konon saat itu orang-orang Jawa dan Sunda tidak mengetahui bahwa guru agama tersebut adalah Cut nyak Dhien, pahlawan nasional dari Aceh. Orang Sumedang kala itu memanggilnya Nyi Guru Aceh (Bu Guru Aceh). Setelah 2 tahun Cut Nyak Dhien menjadi guru agama bagi orang Sumedang, Cut Nyak Dhien syahid dan dikebumikan di Sumedang. Itulah keterharuan penulis ketika mengenang Cut Nyak Dhien yang sangat berjasa dalam mengusir penjajah dari negeri tercita,(Berita Sejarah Pahlawan Nasional di RCTI tahun 2006).

Cut nyak Dhien lahir di Aceh Besar, dibesarkan dilingkungan para pahlawan, dewasa dalam peperangan melawan Belanda, kerja bergerilya masuk-keluar hutan dan akhirnya syahid di Sumedang, Jawa Barat. Sosok seorang Ibu yang patut ditiru oleh siapapun. Cut Nyak Dhien seorang Ibu yang Berhati lembut, namun berjiwa baja. Penulis tuliskan sebuah syair (puisi) sebagai hadiah dan doa terindah kepada “Ibuku Yang Anggun Cut Nyak Dhien” :

IBUKU YANG ANGGUN “Cut Nyak Dhien”

Karya : Hamdani Mulya, S.Pd.

Rinduku pada ibu
Laksana gerahku mata air
Mengumbar selaksa cinta
Yang aku tanam lewat
Curahan kasihmu di igauwanku

Betapa aku tlah jadi bara kagummu ibu
Dalam detak jantung adalah doamu
Biarkan cinta yang anggun berpayung sutra
Dan cintapun berlabuh seiring waktu

Dengan rahmat Allah
Bumiku tlah merdeka

Aku anakmu yang slalu bersenandung
Merdeka di setiap jengkal tanahmu
Ibuku yang anggun “Cut Nyak Dhien”
Aku merindukanmu di hamparan Ali Hasymi
Tlah berbuah budi cinta yang engkau taburi

Di negeri angin cinta tlah berbuah budi
Api terpadam air
Disini aku rindu ibuku “Cut Nyak Dhien”

Lhokseumawe, 28 Desember 2008


Demikianlah riwayat ringkas ini sebagai pelajaran dan kenangan bagi anak cucu kita. Betapa eloknya dan termasyhur sejarah peradaban masa lampau yang telah menggugah hati dan menginspirasi kita untuk terus mempertahankan sesuatu yang telah diraih oleh nenek moyang kita dengan susah payah. Penulis ingin mengajari anak cucu kita sejarah, adat istiadat, kesetiaan, agama, dan berperangai santun seperti kaumnya sendiri. Dalam tulisan ini penulis tidak berniat untuk membanggakan suatu kaum, namun demikianlah kenyataan Aceh telah menjadi perhatian sejarah dunia. Jika dalam tulisan ini terdapat kesalahan dan kekeliruan. Penulis berharap pembaca dan sejarawan untuk memperbaikinya. Agar tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang bagus dan layak untuk dibaca oleh semua orang. Selamat membaca dan berkarya. Kaum intelektual jangan hanya pintar bicara dan “menyanyi” saja, tetapi juga harus gemar menulis.


Tentang Penulis :
Hamdani, S.Pd. adalah Dosen STAIN Malikussaleh, guru MAN Lhokseumawe, peneliti sejarah dan sastra.

Jumat, 03 Juni 2011

RATUSAN SISWI MAN LHOKSEUMAWE KUNJUNGI RRI

(Sumber Berita Kantor Berita Radio Nasional (KBRN) Lhokseumawe: Radio Republik Indonesia (RRI) Lhokseumawe )


Ratusan Siswi MAN Lhokseumawe Kunjungi RRI

KBRN Lhokseumawe : Ratusan siswi Madrasah Aliyah Negeri ( MAN ) Lhokseumawe berkunjung sekaligus Audiensi Praktikum tentang Penyiaran Radio, ke RRI Lhokseumawe. Dalam kunjungannya itu, rombongan siswi yang dipimpin guru pembimbing Pelajaran Bahasa Indonesia Hamdani, S.Pd. dan Masriani, S.Pd., mendatangi gedung kantor operasional penyiaran RRI Lhokseumawe Pukul 09.00 wib di Jalan Petua Ibrahim Desa Teumpok Teungoh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, dan disambut Kepala Sub Bagian Tata usaha ( Kasubbag TU ) Syamsul Qamar, Kepala Tekhnik dan Media Baru ( TMB ), dan PLH Kepala seksi Siaran Shaleha.

Siswi MAN Lhokseumawe itu antara lain melakukan audiensi di Aula serba guna tentang proses penyiaran berita radio, sumber daya manusia, dan berbagai pola mata acara siaran lainnya, sejak berubah status dari radio pemerintah menjadi Lembaga Penyiaran Publik ( LPP ) yang independen, netral dan mandiri. Selain itu, mereka juga memasuki studio penyiaran Pro 1, Pro 2 dan ruang Transmisi pemancar.

“Ini dalam rangka praktikum pembelajaran bagi para siswa, setiap menjelang pembagian rapor kenaikan kelas. Sehingga dengan kunjungan ini siswi dapat berbagi pengalaman tentang bagaimana proses berita, hiburan serta proses peliputan, wawancara dan cara membaca berita yang baik dan benar itu disiarkan“ Kata Koordinator siswi MAN Lhokseumawe Hamdani, S.Pd. Selasa ( 24/05 ) kepada RRI.

Senada dengan Hamdani, seorang siswi MAN Vety Fadhillah, menyambut baik kunjungan ke RRI, karena akan menambah pengalaman baru bagi para siswi, terutama tentang bagaimana menjadi penyiar , membaca berita dan lain-lainnya.

“Saya berharap agar RRI dapat terus maju untuk memberikan informasi yang sehat kepada warga masyarakat, terutama kalangan remaja“. Ujar Vety siswi kelas I MAN Lhokseumawe ini seraya penuh harap.

Sementara itu koordinator siswi MAN Hamdani yang juga Penulis Buku Cerdas Berbahasa Indonesia ( CBI ) juga menambahkan, kunjungan siswi MAN Lhokseumawe ke RRI Lhokseumawe, akan dilaksanakan selama dua hari, yaitu mulai Selasa ( 24/05 ) dan berakhir Rabu ( 25/05 ) besok.

Sebelumnya, pihaknya juga telah melakukan kunjungan ke harian Serambi Indonesia Biro Lhokseumawe, harian Metro Aceh, dan harian Rakyat Aceh, yang terbit di wilayah lhokseumawe dan kabupaten Aceh utara. ( Deni Yusman : Wartawan RRI)

Senin, 28 Februari 2011

INFO BUKU "CERDAS BERBAHASA INDONESIA"



Foto : Hamdani, S.Pd. Penulis Buku "Cerdas Berbahasa Indonesia" di Kantor Penerbit Unimal Press Lhokseumawe.

INFO BUKU BARU

Judul Buku : Cerdas Berbahasa Indonesia
Penulis : Hamdani, S.Pd. (Dosen STAIN Malikussaleh)
Tebal Buku : 102 hlm
Harga : Rp. 30.000
Penerbit : Unimal Press
Distributor : Toko Buku Anugerah Lhokseumawe

Lhokseumawe- Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpustakaan kembali bertambah meriah dengan diterbitkannya buku "Cerdas Berbahasa Indonesia" karya Hamdani, S.Pd. dosen bahasa Indonesia STAIN Malikussaleh dan guru MAN Lhokseumawe. Buku setebal 102 halaman ini diberikan kata sambutan oleh Dr. Iskandar Budiman, MCL. Ketua STAIN Malikussaleh. Buku Cerdas Berbahasa Indonesia yang selesai ditulis selama 2 tahun ini diterbitkan oleh Unimal Press, Penerbit dan Percetakan Universitas Malikussaleh bekerja sama dengan CV. Toko Buku Anugerah Lhokseumawe. Buku yang terbilang unik dan bagus ini dilayout dan didesain oleh Bapak Eriyanto DN. sesuai dengan hak izin terbit pada penerbit Unimal Press.

Dengan diterbitkan buku ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan referensi bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum pemakai bahasa Indonesia dan menambah ragam khazanah buku bahasa Indonesia di tanah air. Buku ini terdiri atas IV Bab. Bab I berbicara tentang Bahasa Indonesia dalam Suatu Tinjauan Teoritis, Bab II berisikan Teknik Menulis Karya Ilmiah, Bab III berjudul Bunga Rampai Bahasa Indonesia, berisikan kumpulan tulisan Hamdani, S.Pd. yang sudah dipublikasikan di beberapa majalah dan surat kabar yaitu “Ambiguitas, Kalimat Efektif, dan Pesona Kebahasaan”, “Seni Berbicara dengan Bahasa yang Santun”, dan “SMS Rusak Citra Bahasa Indonesia”, serta Bab IV membicarakan tentang Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD).

“Buku ini sebuah buku yang terbilang bagus” demikian ungkap Al-Chaidar pengamat buku nasional dan juga sebagai Direktur Unimal Press di sela-sela editing dan cetak buku ini.

(Buku "Cerdas Berbahasa Indonesia" Karya Hamdani, S.Pd. diekspos surat kabar Rakyat Aceh/Metro Aceh, 5 Maret 2011)

Minggu, 27 Februari 2011

BUKU “CERDAS BERBAHASA INDONESIA” DITERBITKAN



Foto : Hamdani, S.Pd. Penulis Buku "Cerdas Berbahasa Indonesia" di Kantor Penerbit Unimal Press Lhokseumawe.


BUKU “CERDAS BERBAHASA INDONESIA” DITERBITKAN

Ditulis oleh Dosen STAIN Malikussaleh dan Guru MAN Lhokseumawe

Lhokseumawe- Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpustakaan kembali bertambah meriah dengan diterbitkannya buku "Cerdas Berbahasa Indonesia" karya Hamdani, S.Pd. dosen bahasa Indonesia STAIN Malikussaleh dan guru MAN Lhokseumawe. Buku setebal 102 halaman ini diberikan kata sambutan oleh Dr. Iskandar Budiman, MCL. Ketua STAIN Malikussaleh. Buku Cerdas Berbahasa Indonesia yang selesai ditulis selama dua tahun ini diterbitkan oleh Unimal Press, Penerbit dan Percetakan Universitas Malikussaleh bekerja sama dengan CV. Toko Buku Anugerah Lhokseumawe. Buku yang terbilang bagus ini dilayout dan didesain oleh Bapak Eriyanto DN. sesuai dengan hak izin terbit pada penerbit Unimal Press.

Dengan diterbitkan buku ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan referensi bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum pemakai bahasa Indonesia dan menambah ragam khazanah buku bahasa Indonesia di tanah air. Buku ini terdiri atas IV Bab. Bab I berbicara tentang Bahasa Indonesia dalam Suatu Tinjauan Teoritis, Bab II berisikan Teknik Menulis Karya Ilmiah, Bab III berjudul Bunga Rampai Bahasa Indonesia, berisikan kumpulan tulisan Hamdani, S.Pd. yang sudah dipublikasikan di beberapa majalah dan surat kabar yaitu “Ambiguitas, Kalimat Efektif, dan Pesona Kebahasaan”, “Seni Berbicara dengan Bahasa yang Santun”, dan “SMS Rusak Citra Bahasa Indonesia”, serta Bab IV membicarakan tentang Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD).

“Buku ini sebuah buku yang terbilang bagus” demikian ungkap Al-Chaidar pengamat buku nasional yang juga sebagai Direktur Unimal Press di sela-sela editing dan cetak buku ini. Sementara itu Hamdani, S.Pd. sosok penulis yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga kota Lhokseumawe berharap agar buku ini mendapat sambutan yang baik dari pihak Dinas Pendidikan baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten atau kota.

“Saya berharap mudah-mudahan pihak pemerintah dapat membantu mensosialisasikan agar buku ini bisa menjadi bahan pembelajaran di sekolah-sekolah dan disalurkan ke perpustakaan yang ada di Aceh” demikian papar Hamdani. Buku Cerdas Berbahasa Indonesia diluncurkan pada pertengahan bulan Maret 2011 pada acara pembukaan Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe.
Dalam kesempatan itu Hamdani sebagai penulis buku juga menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Direktur CV. Toko Buku Anugerah Lhokseumawe, Direktur Unimal Press, Rektor Unimal, dan Ketua STAIN Malikussaleh Lhokseumawe yang telah membantu baik moril maupun materiil sehingga buku ini dapat ditebitkan. (HI).



INFO BUKU BARU

Judul Buku : Cerdas Berbahasa Indonesia
Penulis : Hamdani, S.Pd. (Dosen STAIN Malikussaleh)
Tebal Buku : 102 hlm
Harga : Rp. 30.000
Penerbit : Unimal Press
Distributor : Toko Buku Anugerah Lhokseumawe

Lhokseumawe- Katalog Dalam Terbitan (KDT) Perpustakaan kembali bertambah meriah dengan diterbitkannya buku "Cerdas Berbahasa Indonesia" karya Hamdani, S.Pd. dosen bahasa Indonesia STAIN Malikussaleh dan guru MAN Lhokseumawe. Buku setebal 100 halaman ini diberikan kata sambutan oleh Dr. Iskandar Budiman, MCL. Ketua STAIN Malikussaleh. Buku Cerdas Berbahasa Indonesia yang selesai ditulis selama dua tahun ini diterbitkan oleh Unimal Press, Penerbit dan Percetakan Universitas Malikussaleh bekerja sama dengan CV. Toko Buku Anugerah Lhokseumawe. Buku yang unik dan bagus ini dilayout dan didesain oleh Bapak Eriyanto DN. sesuai dengan hak izin terbit pada penerbit Unimal Press.

Dengan diterbitkan buku ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan referensi bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum pemakai bahasa Indonesia dan menambah ragam khazanah buku bahasa Indonesia di tanah air. Buku ini terdiri atas IV Bab. Bab I berbicara tentang Bahasa Indonesia dalam Suatu Tinjauan Teoritis, Bab II berisikan Teknik Menulis Karya Ilmiah, Bab III berjudul Bunga Rampai Bahasa Indonesia, berisikan kumpulan tulisan Hamdani, S.Pd. yang sudah dipublikasikan di beberapa majalah dan surat kabar yaitu “Ambiguitas, Kalimat Efektif, dan Pesona Kebahasaan”, “Seni Berbicara dengan Bahasa yang Santun”, dan “SMS Rusak Citra Bahasa Indonesia”, serta Bab IV membicarakan tentang Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD).

Jumat, 07 Januari 2011

ALAT-ALAT TEKNIK DAN ELEKTRONIK DALAM BAHASA ACEH

ALAT-ALAT TEKNIK DAN ELEKTRONIK
DALAM BAHASA ACEH

Oleh Hamdani, S.Pd.

1. ALAT-ALAT TEKNIK DALAM BAHASA ACEH
a. Jeungki : Alat Penumbuk Padi
b. Leusong : Lesung
c. Langai, Creuh : Alat pembajak sawah yang ditarik oleh kerbau
d. Cangkoi : Cangkul
e. Lham : Sekrup
f. Parang : Parang
g. Sikin : Pisau
h. Nyeeh : Alat merapikan kayu/ketam
i. Bo : Bor
j. Tang : Tang
k. Linggeh : Linggis
l. Gunci Inggreh : Kunci Inggris
m. jie`ei : Alat untuk menampi padi dan beras
n. Pot-Pot : Mesin pembersih gabah padi
o. Prontok Pade` : Perontok padi
p. Gunteng : Gunting
q. Peuneurah : Alat pemeras minyak kelapa atau patarana
r. Panyot : Lampu minyak

2. ALAT-ALAT ELOKTRONIK DALAM BAHASA ACEH
a. Goso`an, Geusok : Gosoan, Setrika
b. Kipah Angen : Kipas angin
c. Tivi : Televisi
d. Telepun, Telepon : Telephon
e. Tiep : Tape record
f. Radio : Radio
g. Asee : AC
h. Lampu : Lampu
i. Kolkas, kolokah : Kulkas, lemari es

PELAJARAN TAMBAHAN
Alat-Alat Dapur dalam Bahasa Aceh
a. Beulangong : Belanga
b. Kompho : Kompor
c. Pingan : Piring
d. Cupe : Piring kecil
e. Kanot bu : Kuali
f. Tapeusi, Tabak : Talam
g. Blet, rantang : Rantang
h. Glah : Gelas
i. Gayong : Cangkir plastik
j. Ciriek : Ceret

Hamdani, S.Pd. adalah Dosen Bahasa Indonesia STAIN Malikussaleh dan Guru MAN Lhokseumawe.

MATEMATIKA DALAM BAHASA ACEH

MATEMATIKA DALAM BAHASA ACEH

Oleh Hamdani, S.Pd.
(Dosen STAIN Malikussaleh Lhokseumawe)

1.ANGKA/BILANGAN MATEMATIKA DALAM BAHASA ACEH
Berikut adalah berhitung (meubileung) dengan angka dalam bahasa Aceh:

Noy (0) : Nol, Sa (1) : Satu, Duwa (2) : Dua, Lhèë (3) : Tiga, Peuët (4) : Empat, Limong (5) : Lima, Nam (6) : Enam, Tujoh (7) : Tujuh, Lapan (8) : Delapan, Sikureung (9) : Sembilan, Siploh (10) : Sepuluh

(Satu sampai sembilan merupakan angka satuan)
Dua Ploh (20) : Dua Puluh
(Sepuluh, dua puluh, dan seterusnya merupakan angka puluhan)
Sireutoh (100) : Seratus, Dua Reutoh (200) : Dua ratus
(Seratus, dua ratus, dan seterusnya merupakan angka ratusan)
Siribee (1000) : Seribu, Dua Ribee (2000) : Duab ribu
(Seribu, dua ribu, dan seterusnya merupakan angka ribuan)
Sijuta (1.000.000) : Juta (menunjukan angka jutaan)
Silion (1.000.000.000) : Milliar (menunjukan angka milliaran)

2.RUMUS MATEMATIKA DALAM BAHASA ACEH
Kode Rumus :
Tamah (+) : Tambah, Kureung ( - ) : Kurang, Weuk/Bago ( : ) : Bagi, Kali ( x ) : Kali, dan Sama dengon ( = ) Sama dengan.

Contoh Soal :
a. Tamah, umpamajih: 1 + 1 = 2, 2 + 2= 4, 2 + 3 = 5, dan 4 + 1 = 5
b. Kureung, umpamajih: 5 – 2 = 3, 10 – 5 = 5, 6 – 2 = 4, dan 4 – 1 = 3
c. Weuk/Bago, umpamajih: 10 : 2 = 5, 6 : 2 = 3, dan 6 : 3 = 2
d. Kali, umpamajih: 3 x 3 = 9, 4 x 2 = 8, dan 7 x 7 = 49

Sabtu, 04 Desember 2010

ALBUM KENANGAN



Photo : Hamdani, S.Pd. (depan) bersama peserta Diklat Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia se-SUNAD di Balai Diklat Medan tahun 2009.